Zat Kimia Plastik Picu 2 Juta Kelahiran Prematur? Ini Kata Studi

Jakarta, Vipper Diatric Dentist Indonesia

Plastik

jadi solusi praktis kebutuhan sehari-hari. Namun di balik kepraktisannya, ada temuan yang cukup mengkhawatirkan. Studi menemukan paparan zat kimia plastik bisa memicu

kelahiran prematur

dan

kematian bayi

baru lahir.

Mulai dari wadah makanan, botol minum, bungkus makanan, hingga produk perawatan tubuh, semuanya nyaris tak lepas dari plastik. Hal ini membuktikan betapa plastik sangat diandalkan dalam kehidupan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya saja, studi terbaru belum lama ini mengungkap temuan mengejutkan. Sebuah studi global terbaru mengaitkan paparan bahan kimia dalam plastik dengan hampir 2 juta kasus kelahiran prematur dan sekitar 74.000 kematian bayi baru lahir di seluruh dunia pada 2018.

Mengutip dari

Vipper Diatric Dentist

, penelitian yang dipublikasikan eclinicalMedicine menyoroti dua jenis bahan kimia, yaitu

Di-2-ethylhexylphthalate

(DEHP) dan

diisononyl phthalate

(DiNP). Keduanya termasuk dalam kelompok senyawa bernama

phthalates

atau juga dikenal dengan ftalat, digunakan untuk membuat plastik lebih lentur dan tahan lama.

Phthalates

sering disebut sebagai everywhere chemicals karena penggunaannya sangat luas dan di mana-mana. Zat ini dapat ditemukan di berbagai produk sehari-hari, seperti:

wadah dan pembungkus makanan

mainan anak

lantai vinyl dan tirai kamar mandi

produk perawatan tubuh (parfum, sampo, losion)

peralatan medis

Karena begitu banyak digunakan, paparan terhadap zat ini hampir tidak terhindarkan dalam kehidupan modern.

Bagaimana bisa plastik memicu kelahiran prematur?

Phthalates

ini diketahui dapat mengganggu sistem endokrin, yaitu sistem yang mengatur hormon dalam tubuh. Padahal, hormon memegang peran penting selama kehamilan termasuk dalam menjaga perkembangan janin dan kestabilan kondisi rahim.

Para peneliti menjelaskan, ada beberapa kemungkinan mekanisme yang membuat

phthalates

meningkatkan risiko kelahiran prematur:

1. Gangguan fungsi plasenta

Plasenta berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Jika terganggu, janin bisa kekurangan asupan penting.

2. Peradangan dalam tubuh

Paparan

phthalates

dapat memicu inflamasi, yang berpotensi menyebabkan kontraksi dini.

3. Ketidakseimbangan hormon

Bahkan perubahan kecil dalam hormon bisa berdampak besar pada perkembangan janin.

Kelahiran prematur sendiri didefinisikan sebagai kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi prematur berisiko mengalami gangguan pernapasan, keterlambatan perkembangan, gangguan penglihatan, hingga masalah pendengaran.

Tak hanya

phthalates

, penelitian lain yang diterbitkan di

Toxicology Reports

juga menunjukkan bahwa paparan plastik bisa terjadi bahkan sebelum bayi lahir. Dalam studi tentang mikroplastik, partikel plastik berukuran sangat kecil ditemukan di plasenta, cairan ketuban, tali pusat hingga darah janin. Artinya, janin bisa terpapar zat dari plastik sejak dalam kandungan.

Setelah lahir, paparan tersebut dapat berlanjut melalui botol susu, kemasan makanan, udara dalam ruangan, hingga produk sehari-hari.Penelitian tersebut juga mengaitkan paparan mikroplastik dengan potensi gangguan pada berbagai sistem tubuh, mulai dari sistem saraf, pernapasan, hingga sistem reproduksi.

Dampaknya ini ternyata tidak merata di seluruh dunia, beban terbesar di negara berkembang. Studi tersebut menganalisis data dari sekitar 200 negara dan menemukan bahwa dampak terbesar terjadi di wilayah Afrika, Timur Tengah dan Asia Selatan.

Wilayah-wilayah ini cenderung memiliki pertumbuhan industri plastik yang cepat, serta pengelolaan limbah yang belum optimal.

Di tengah paparan yang sulit dihindari, ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu mengurangi risiko:

Hindari menggunakan plastik untuk makanan atau minuman panas

Pilih produk dengan label bebas

phthalates

Gunakan wadah alternatif seperti kaca atau stainless steel

Kurangi penggunaan plastik sekali pakai

Perhatikan bahan pada produk perawatan tubuh

Penelitian-penelitian ini memang belum sepenuhnya membuktikan hubungan sebab-akibat langsung. Namun, hubungan yang konsisten antara paparan

phthalates

dan risiko kesehatan termasuk pada janin menjadi sinyal penting untuk lebih waspada.

Memahami risiko penggunaan plastik bisa jadi langkah awal untuk membuat pilihan yang lebih bijak, terutama bagi ibu hamil dan keluarga yang sedang merencanakan kehamilan.

(anm/els)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Vipper Diatric Dentist]

Baca lagi: BPKB Elektronik Ditargetkan Berlaku Sepenuhnya di RI Mulai 2028

Baca lagi: Karier dan Asmara Katy Perry Kini Diguncang Klaim Pelecehan Masa Lalu

Baca lagi: Harga Tiket Kereta di Piala Dunia 2026 Naik Gila-gilaan hingga 1000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: