
Daftar Isi
Apa itu Sindrom Tourette?
Ragam gerakan dan suara pada Tourette
1. Tic motorik (gerakan tubuh)
2. Tic vokal atau fonik (suara)
Jakarta, Vipper Diatric Dentist Indonesia
—
Pernah melihat seseorang berkedip berulang, mengangkat bahu tanpa sadar, meringis, atau tiba-tiba mengeluarkan suara tertentu? Sekilas, gerakan dan suara seperti ini mungkin terlihat seperti kebiasaan biasa, refleks, atau sekadar tingkah spontan.
Padahal, dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan sindrom Tourette, yaitu
gangguan
yang ditandai dengan munculnya gerakan dan suara berulang yang sulit dikendalikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahasan tentang sindrom Tourette tengah ramai jadi pembicaraan di
platform
X. Seorang pengguna X mengunggah sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan dengan sindrom Tourette.
Dari sana, banyak warganet yang ikut berkomentar. Beberapa warganet merasa iba, beberapa yang lain juga berbagi pengalamannya dengan penyakit langka ini.
Tourette bukan sekadar kedutan kecil atau suara spontan sesekali. Kondisi ini melibatkan
tic
motorik dan
tic
vokal yang bisa muncul berulang, dengan bentuk yang beragam dan intensitas yang berbeda pada tiap orang. Ada yang terlihat ringan, ada juga yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Apa itu Sindrom Tourette?
Mengutip jurnal dari
The Lancet Neurology
, sindrom Tourette adalah gangguan perkembangan otak dan saraf kronis yang ditandai dengan gerakan (motor) dan suara (fonik/vokal) yang muncul berulang dan tidak disengaja.
Namun, gejalanya tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang ringan dan hampir tidak mengganggu, ada juga yang cukup berat hingga memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Yang sering luput dipahami, Tourette juga kerap disertai kondisi lain seperti ADHD, OCD, hingga kecemasan. Bahkan, dalam banyak kasus, gangguan penyerta inilah yang justru lebih memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Ragam gerakan dan suara pada Tourette
Gejala utama Tourette disebut
tic
, yang terbagi menjadi dua kategori besar: motorik dan vokal.
1. Tic motorik (gerakan tubuh)
Tic
motorik bisa sederhana hingga kompleks. Yang sederhana,
tic
bisa berupa sering berkedip, mengangkat bahu berulang, meringis atau mengubah ekspresi wajah.
Sementara yang kompleks bisa berupa meniru gerakan orang lain (echopraxia), melompat atau gerakan lain yang lebih besar, hingga kombinasi beberapa gerakan sekaligus.
Dalam beberapa kasus,
tic
motorik bisa muncul secara multipel dalam satu waktu.
2. Tic vokal atau fonik (suara)
Selain gerakan, Tourette juga melibatkan suara atau ucapan tertentu. Suara sederhana akan terlihat seperti berdehem atau membersihkan tenggorokan, batuk atau mendengkur, hingga menghirup udara layaknya pilek.
Sementara suara yang kompleks bisa berupa mengulang kata-kata sendiri, meniru ucapan orang lain, dan dalam kasus tertentu, mengucapkan kata kasar.
Tic
pada Tourette sering kali didahului oleh sensasi tertentu di tubuh, yang disebut
premonitory urge
, rasa tidak nyaman yang baru hilang setelah
tic
dilakukan.
Penelitian di
Nature Communications
menjelaskan bahwa kondisi ini melibatkan jaringan otak yang berkaitan dengan dorongan, aksi, dan kontrol diri. Tourette bukan sekadar gangguan gerak, melainkan melibatkan sistem saraf yang lebih kompleks.
Gejala Tourette juga tidak selalu konstan,
tic
bisa memburuk saat stres fisik atau emosional membaik saat seseorang sedang rileks atau sendirian bahkan tetap muncul saat tidur, meski dengan pola berbeda.Ini menunjukkan bahwa kondisi emosional dan lingkungan sangat memengaruhi intensitas gejala.
[Gambas:Twitter]
Meski terlihat jelas, diagnosis Tourette tidak bisa hanya berdasarkan pengamatan singkat. Sebuah ulasan berjudul
Evidence-Based Assessment of Tourette Syndrom
menekankan bahwa diagnosis harus dilakukan secara komprehensif, melalui wawancara klinis, observasi dalam jangka waktu tertentu, dan laporan dari pasien serta keluarga.
Kabar baiknya, Tourette bisa ditangani. Pendekatan yang digunakan biasanya bertahap, tergantung tingkat keparahan, mulai dari terapi perilaku,obat-obatan,hingga terapi lanjutan seperti neuromodulasi pada kasus berat.
Memahami Tourette berarti melihatnya sebagai kondisi yang kompleks, bukan sekadar kebiasaan aneh atau perilaku yang bisa dikontrol sepenuhnya.Gerakan atau suara yang muncul mungkin terlihat sederhana, tapi di balik itu ada proses biologis, neurologis, dan emosional yang saling berkaitan.
Dengan pemahaman yang lebih baik, stigma terhadap penderita Tourette pun bisa berkurang dan mereka bisa mendapat dukungan yang lebih tepat dari lingkungan sekitarnya.
(anm/asr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Jerit Hati Hector Souto Soroti Kondisi Lapangan Futsal di Daerah
Baca lagi: Adik Masih Menyesal Ajak Barbie Hsu Liburan ke Jepang
Baca lagi: FOTO: Rona Bahagia Jemaah Haji Palembang Berangkat ke Tanah Suci




One Response
situs gacor malam ini Dapatkan pengalaman bermain game yang tidak hanya seru tapi juga menguntungkan! Setiap permainan memberikan peluang untuk meraih bonus besar dan hadiah uang yang bisa kamu kumpulkan setiap hari.