Helm Khusus Bayi, Kebutuhan atau Cuma Tren?

Jakarta, Vipper Diatric Dentist Indonesia

Melihat

bayi

memakai helm khusus di kepala mungkin membuat sebagian orang tua bertanya-tanya. Apakah ini benar-benar perlu, atau hanya tren semata?

Praktik ini dikenal sebagai

helmet therapy

atau

cranial orthosis

, yang umumnya digunakan pada bayi dengan kondisi kepala datar, seperti

plagiocephaly

atau

brachycephaly

. Kondisi ini cukup sering terjadi, terutama pada bayi yang banyak berbaring dengan posisi kepala yang sama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa itu

helmet therapy

?

Helmet therapy adalah penggunaan helm khusus yang dirancang untuk membantu membentuk ulang kepala bayi yang mengalami asimetri atau

flat head syndrome

.

Helm ini bekerja dengan memberikan ruang pada bagian kepala yang datar, sekaligus mengarahkan pertumbuhan ke area yang masih perlu berkembang. Biasanya, terapi ini dipertimbangkan pada bayi usia di bawah 1 tahun, saat tulang tengkorak masih lunak dan mudah dibentuk.

Banyak orang tua khawatir saat melihat bentuk kepala bayi tidak simetris. Padahal, dalam banyak kasus, kondisi ini bisa membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan.

Sebagian besar kasus

plagiocephaly

ringan dapat membaik tanpa helm, terutama dengan cara sederhana seperti,

mengubah posisi tidur,

memperbanyak tummy time, serta

fisioterapi bila diperlukan.

Hal ini pun menunjukkan

helmet therapy

bukan pilihan pertama untuk semua bayi. Lantas, kapan

helmet therapy

dibutuhkan?

Helmet therapy

umumnya direkomendasikan pada kasus sedang hingga berat, atau ketika perbaikan alami dinilai kecil kemungkinannya.

Sebuah

systematic review

di jurnal Child’s Nervous System menyebut helmet therapy dapat efektif, terutama pada bayi dengan deformitas yang lebih jelas. Keputusan tetap harus mempertimbangkan usia bayi, tingkat keparahan, dan kemungkinan perbaikan tanpa intervensi.

Hasilnya bisa berbeda-beda

Meski banyak studi menunjukkan manfaat, para ahli juga mengingatkan bahwa hasil

helmet therapy

tidak selalu seragam. Perbedaan metode pengukuran dan definisi kondisi membuat hasil antarpenelitian sulit dibandingkan secara langsung.

Dengan kata lain, terapi ini memang bisa membantu, tetapi bukan solusi instan atau pasti berhasil pada semua kasus.

Salah satu hal penting dalam

helmet therapy

adalah waktu. Manfaat terapi cenderung lebih besar jika dimulai lebih awal, saat pertumbuhan tengkorak masih cepat. Setelah usia sekitar 10 bulan, efektivitasnya bisa menurun karena pertumbuhan kepala mulai melambat.

Oleh karena itu, evaluasi sejak dini oleh tenaga kesehatan menjadi penting untuk menentukan langkah terbaik.

Meski sering dianggap hanya soal bentuk kepala, pada beberapa kasus,

plagiocephaly

bisa berkaitan dengan kondisi lain seperti tortikolis (kekakuan otot leher) atau keterlambatan perkembangan.

Itulah mengapa pemeriksaan dokter diperlukan, untuk memastikan kondisi ini bukan gangguan lain seperti

craniosynostosis

yang lebih serius.

Helmet therapy

bisa menjadi solusi pada kondisi tertentu, terutama pada kasus sedang hingga berat. Keputusan penggunaan helm bukan soal tren, tetapi soal kebutuhan medis masing-masing bayi, yang sebaiknya ditentukan bersama tenaga kesehatan. Karena dalam banyak kasus, pertumbuhan alami bayi sendiri sudah cukup membantu memperbaiki bentuk kepala tanpa intervensi khusus.

(anm/els)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Vipper Diatric Dentist]

Baca lagi: 7 Faktor Ini Bisa Memicu Gerakan Aneh Seperti Sindrom Tourette

Baca lagi: Perayaan Seabad Ducati di Bali

Baca lagi: Kata Wenger usai Arsenal Juara Liga Inggris: Ini adalah Waktumu

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: