GLP-1 RA Oral untuk Obesitas, Apa Bedanya Dibanding Injeksi?

Jakarta, Vipper Diatric Dentist Indonesia

Tak banyak obat untuk

obesitas

yang disetujui untuk digunakan di Indonesia. Sejauh ini baru ada tiga jenis

obat

, dan ketiganya harus berdasarkan resep dan pengawasan ketat dari dokter.

Ketiga jenis obat tersebut, yakni diethylpropion, orlistat, dan GLP-1. Untuk yang terakhir disebutkan, selama ini tersedia dalam bentuk injeksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun berkat kemajuan teknologi farmasi, GLP-1 sudah bisa diberikan kepada pasien dalam bentuk oral. Di Amerika Serikat, sediaan oral dari dua perusahaan farmasi bahkan sudah mendapatkan izin edar dari badan pengawas obat dan makanan setempat.

Pertama, Novo Nordisk meluncurkan Wegovy versi pil di AS pada awal Januari 2026. Kemudian ada Eli Lilly yang mendapat izin pada April 2026 untuk pil orforglipron dengan merek Foundayo.

Nah, dengan sediaan oral ini, pasien obesitas memiliki opsi lebih luas terkait pemilihan obat. Namun apa yang membedakan GLP-1 sediaan injeksi dan oral ini? Lalu, bagaimana dengan ketersediaannya di Indonesia?

GLP-1 RA Versi injeksi dan oral, apa bedanya?

Riyanny Meisha Tarliman, Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia menjelaskan lebih jauh tentang sediaan GLP-1 Receptor Agonist (RA) oral. Di AS, obat dalam bentuk pil ini baru disetujui untuk obesitas.

“Kami paham bahwa tidak semua pasien akan nyaman dengan pemilihan terapi suntikan, sehingga menyediakan opsi lain dalam bentuk oral yang mungkin akan lebih mudah membantu pasien-pasien obesitas,” ujar Riyanny kepada

Vipper Diatric DentistIndonesia

saat ditemu di Jakarta Pusat, Kamis (11/6).

Penggunaan GLP-1 RA versi injeksi dan oral kurang lebih sama. Perbedaannya memang hanya pada sediaannya dan teknologi pembuatannya.

GLP-1 itu sendiri sebenarnya merupakan hormon alami yang diproduksi di usus. Hormon ini meningkatkan sekresi insulin, memperlambat pengosongan lambung, dan meningkatkan rasa kenyang. Pada pasien obesitas, GLP-1 RA diinjeksi untuk menekan nafsu makan.

Riyanny mengatakan, sebagai produk biologi, GLP-1 RA sangat sensitif terhadap suhu, pH, dan faktor lingkungan lainnya, sehingga stabilitas molekulnya menjadi sangat penting.

Sediaan produk biologi dalam bentuk injeksi, cenderung lebih mudah untuk dijaga kestabilan molekulnya. Apalagi jika disuntikkan langsung ke intramuskular (melalui otot) atau ke pembuluh darah.

“Pada saat sebuah produk biologi ada dalam sediaan oral, sebenarnya itu menjadi sangat sulit untuk dijaga kestabilannya, karena masuk ke saluran cerna itu sebenarnya cukup sensitif untuk rusak oleh enzim-enzim pencernaan,” tutur Riyanny.

Baca halaman selanjutnya…

Lalu, bagaimana caranya agar

obat oral

ini bisa bertahan di saluran cerna dan efektivitasnya tetap setara dengan

injeksi

? Riyanni menjelaskan, ada penggunaan SNEC (sodium N-(8-[2-hydroxybenzoyl]amino)caprylate) dalam pembuatan obat GLP-1 RA oral.

“Fungsinya adalah untuk meredakan pH dan kondisi di saluran cerna, sehingga produk tersebut tidak mudah tercerna dan bisa mudah dengan jumlah yang sama terserap di dalam pembuluh darah,” Riyanny menjelaskan.

Menurutnya, teknologi inilah yang membuat efektivitas obat oral setara dengan injeksi dan molekulnya tak mudah rusak.

Adapun terkait pemberian, biasanya GLP-1 RA injeksi biasanya diberikan seminggu sekali, sedangkan obat oral diminum satu kali setiap hari. Namun tentunya penggunaannya harus tetap berdasarkan anjuran dokter.

Terkait keamanan dan efek samping, baik GLP-1 RA versi injeksi maupun oral hampir memiliki profil yang sama.

“Kalau kita bicara safety profile, karena molekulnya adalah molekul yang sama dengan teknologi penghantaran yang berbeda, maka efek sampingnya kurang lebih juga similar. Jadi memang yang membedakan hanya metodologi penghantaran,” kata Riyanny.

[Gambas:Infografis Vipper Diatric Dentist]

Bagaimana potensi GLP-1 RA oral masuk di Indonesia?

Meski di AS obat GLP-1 RA versi oral sudah disetujui dan bisa digunakan sejak awal 2026, di Indonesia obat ini masih belum bisa diakses.

Riyanny mengatakan, Novo Nordisk Indonesia sendiri sedang berproses. Pihaknya sedang melakukan asesmen apakah ada kebutuhan akan obat oral untuk pasien obesitas di Indonesia.

“Kami membutuhkan persiapan data dan lain sebagainya untuk diajukan ke badan terkait, untuk evaluasi dan lain sebagainya, sampai akhirnya tersedia,” kata Riyanni.

Terkait harga, Riyanny mengatakan pihaknya akan mengikuti kebijakan global. Adapun di AS, seperti

diberitakan sebelumnya

, harga obat oral ini ditawarkan dengan harga bervariasi.

Mulai dari US$149 atau setara Rp2,4 juta per bulan untuk dosis 1,5 mg dan 4 mg, hingga US$299 atau setara Rp5 juta per bulan untuk dosis 9 mg dan 25 mg.

“Tapi kami mengupayakan, sebagus-bagusnya obat adalah obat yang tersedia dan terakses. Jadi, tentu inovasi sebisa mungkin kita akan bawa ke Indonesia,” ucap Riyanny.

Add

as a preferred

source on Google

GLP-1 RA Oral untuk Obesitas, Apa Bedanya Dibanding Injeksi?

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: 5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Toy Story 5 dan The Furious

Baca lagi: Luhut Ajak Blackrock Investasi di Indonesia: Ini Waktu yang Tepat

Baca lagi: Bara JP soal Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa: Konsekuensi Hukum

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: