
Jakarta, Vipper Diatric Dentist Indonesia
—
Pengacara
Hotman Paris
membagikan pengalamannya terkena
saraf kejepit
. Penyakit tersebut membuatnya harus menjalani operasi di area L4 dan L5.
“Saat operasi saraf kejepit L4 dan L5 di rumah sakit Singapore! Akan otw Singapore karena ada masalah di luka bekas operasi,” tulis Hotman Paris di akun Instagramnya, Kamis (23/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saraf kejepit sendiri merupakan istilah umum yang merujuk pada kondisi saraf perifer yang tertekan. Saraf perifer merupakan saraf yang berada di luar otak dan sumsum tulang belakang.
Saraf kejepit umumnya menimbulkan gejala seperti mati rasa, kesemutan, dan nyeri yang cukup intens. Gejala ini bisa bersifat sementara atau jangka panjang, tergantung penyebab dan tingkat keparahannya.
Apa itu saraf kejepit L4-L5?
Saraf kejepit umum dialami banyak orang. Namun Hotman Paris, secara spesifik mengalami saraf kejepit L4-L5.
Menukil laman
Cleveland Clinic
, saraf kejepit L4-L5 merujuk pada saraf kejepit yang terjadi di area tulang belakang bagian bawah, tepatnya di antara ruas tulang belakang lumbar ke-4 (L4) dan lumbar ke-5 (L5).
Saat jaringan di sekitarnya menekan akar saraf perifer, rasa nyeri, mati rasa, dan kesemutan di berbagai area tubuh akan muncul. Kondisi ini disebut dengan radikulopati.
Ada beberapa jenis radikulopati berdasarkan lokasi saraf kejepit di sepanjang tulang belakang. Berikut di antaranya:
– leher (radikulopati servikal)
– nyeri punggung bagian tengah hingga atas (radikulopati toraks)
– nyeri punggung bawah (radikulopati lumbal)
Selain di sepanjang tulang belakang, saraf kejepit juga bisa terjadi di berbagai bagian tubuh lainnya seperti pergelangan tangan, siku, dada bagian atas, paha, bagian atas kaki, panggul, pinggul, hingga tumit.
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko saraf kejepit. Orang dengan usia di atas 50 tahun, misalnya, disebut sebagai kelompok yang paling mungkin mengalami saraf kejepit. Pada usia ini, saraf kejepit terjadi karena radang sendi dan degenerasi terkait usia.
Obesitas atau kelebihan berat badan juga dapat memberikan tekanan pada saraf.
Ibu hamil juga termasuk kelompok berisiko saraf kejepit. Janin bisa mendorong organ dan jaringan lain ke samping yang bisa menyebabkan saraf tertekan. Berat janin dan plasenta juga dapat menekan saraf.
Saraf kejepit umumnya berlangsung ringan. Sebagian besar kasus dapat diobati dengan istirahat, kompres es dan panas, konsumsi obat-obatan pereda nyeri, dan fisioterapi.
Pembedahan adalah upaya terakhir dalam mengobati saraf kejepit saat pengobatan non-bedah tidak memberikan hasil. Jenis pembedahan tergantung pada area dan penyebab saraf kejepit.
(asr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Menteri PU Bantah Isu Pegawai Wafat Imbas Cuti Tak Disetujui: Hoaks
Baca lagi: IShowSpeed Pamer Momen Ketemu BTS di Final Piala Dunia 2026
Baca lagi: FOTO: Reog Ponorogo Terus Berjaya di Pundak Generasi Muda




4 Responses
Wah, penjelasan yang luar biasa informatif. Sangat mencerahkan pikiran saya mengenai topik ini. Bagi yang sedang mencari bacaan pendukung, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297023447_htm
Penjelasan yang luar biasa rapi dan sangat kontekstual dengan kondisi saat ini. Sukses selalu buat blognya. Btw, ada ringkasan materi pendukung yang lumayan oke di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297576327_htm
Mantap ulasannya! Informatif sekali dan langsung to the point tanpa bertele-tele. Sekadar berbagi referensi pelengkap, buat yang mau mendalami materi serupa bisa mampir ke https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320566895_htm
Mantap ulasannya! Informatif sekali dan langsung to the point tanpa bertele-tele. Sekadar berbagi referensi pelengkap, buat yang mau mendalami materi serupa bisa mampir ke https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297360988_htm