
Jakarta, Vipper Diatric Dentist Indonesia
—
“Belum juga 15 menit, betis sudah menangis.”
Kiranya, kalimat itulah yang berkelana di kepala saat saya mencoba mengikuti tren
slow jogging
yang belakangan digilai banyak orang.
Faktanya, betis memang menangis bahkan sebelum genap menit ke-14. Tak kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya sendiri sebenarnya bukan seorang pelari yang mengejar
pace
atau jarak tempuh. Urusan aktivitas fisik, saya lebih senang berjalan kaki cepat, yoga, atau trekking sekalian. Sesekali joging biasa, boleh lah.
Kebiasaan aktivitas fisik yang ‘santai’ itu jelas bikin saya penasaran dengan
slow jogging
saat pertama kali mendengarnya. Benarkah ada cara berlari yang tidak menuntut saya terburu-buru?
Pada akhir Juli lalu, saya mencobanya. Sederhana saja, berlari keliling perumahan.
Udara Jakarta di pagi hari masih terasa segar. Cahaya matahari pelan-pelan muncul menerangi langit. Saya bersiap.
Pemanasan singkat dulu sekitar 5 menit. Lalu keluar rumah dan memulai aktivitas fisik.
Mulanya saya hanya berjalan kaki. Tapi, perlahan saya coba mengangkat kaki tipis-tipis dan melakukan
slow jogging
. Jujur saja, saat itu saya tidak tahu teknik yang dilakukan benar atau salah. Yang penting lari dengan langkah kecil.
Mari kita anggap saja bahwa teknik itu sudah benar.
Lima menit pertama terasa baik-baik saja. Pola napas juga aman. Tak terasa juga jantung yang berdetak kencang.
Olahraga satu ini memang fokus pada
heart rate
yang lebih stabil. Berbeda dengan lari biasa, yang boleh jadi, kadang bikin jantung terasa mau copot.
Awalnya, saya pikir,
slow jogging
akan membuat pernapasan ‘teriak’ lebih dulu lantaran saya terbiasa dengan olahraga yang terlalu santai. Tapi, nyatanya tidak.
Bukan pernapasan yang teriak lebih dulu, melainkan betis!
Tepat di menit ke-14, tiba-tiba ada sensasi ikatan kencang yang terasa di area betis. Padahal, kalau dipikir-pikir, saya tak bergerak terlalu lincah,
sih
.
Alih-alih lincah, saya justru berusaha mempertahankan bergerak pelan. Bagian ini sebenarnya agak membuat saya malu. Selain betis yang protes, ada tantangan lain yang tak kalah berat: gengsi.
Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa orang-orang yang berjalan cepat bisa menyalip kita sesekali. Beberapa kali saya tergoda untuk mempercepat langkah. Bukan karena tubuh masih sanggup, tapi karena malu terlihat berlari begitu pelan.
Beberapa kali ada orang yang memperhatikan saya. Mungkin dalam benaknya, ia berkata, ”
Lari kok ‘slay’ betul?
“.
Tapi, filosofi
slow jogging
memang demikian: menghilangkan ego soal kecepatan. Yang penting tubuh bergerak pada intensitas yang bisa dipertahankan.
Hiroaki Tanaka, seorang fisiolog asal Jepang yang mengembangkan konsep
slow jogging
atau
niko niko pace,
mendefinisikan olahraga ini sebagai berlari dengan kecepatan yang masih membuat seseorang bisa tersenyum dan mengobrol.
Dalam ulasannya yang dipublikasikan di
Japanese Journal of Sport Nutrition
, Tanaka menjelaskan bahwa
slow jogging
bertujuan untuk meningkatkan kebugaran aerobik dengan intensitas rendah sehingga lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Kembali ke persoalan betis. Karena betis yang tak lagi kuat, saya memutuskan untuk berjalan kaki cepat. Lebih enak meski betis masih terasa seperti terikat selama beberapa belas menit ke depan.
Izinkan saya membandingkan. Saat joging biasa, saya biasanya berhenti karena napas mulai berat. Kali ini berbeda. Napas masih terasa cukup nyaman, tapi baru belasan menit, betis terasa seperti diikat kencang.
Jika melihat perbincangan di berbagai
platform
seperti Quora dan Instagram, banyak orang memang mengeluhkan bagian betis saat mencoba joging dalam kecepatan rendah.
Hal itu tak terjadi tanpa alasan. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam
Clinical Biomechanis
menunjukkan,
slow jogging
memang mengubah cara kerja tubuh.
Dalam
slow jogging
, tubuh melangkah lebih pendek. Tapi, karena langkah yang pendek itulah, frekuensi langkah menjadi lebih tinggi.
Langkah yang pendek dengan frekuensi lebih tinggi membuat otot betis dan pergelangan kaki bekerja lebih aktif. Keluhan seperti betis cepat pegal pada percobaan pertama masuk akal secara fisiologis.
Belum lagi metode pendaratan
slow jogging
yang sedikit berbeda. Pada joging pelan seperti ini, pelari dianjurkan mendarat dengan bagian tengah atau depan telapak kaki, bukan menghentakkan tumit seperti pada joging biasa.
Sebuah ulasan di
Scientific Report
mengatakan, pendaratan seperti itu memang membuat otot betis dan tendon Achilles bekerja lebih keras untuk menyerap benturan. Akibatnya, orang yang baru pertama mencoba sering kali merasa betis lebih cepat lelah alih-alih napas, sebagaimana yang saya alami.
Selama ini, saya merasa
slow jogging
memang membuat aktivitas lari jadi lebih ‘
slay
‘. Tapi, nyatanya
slow jogging
tak semudah yang dipikirkan.
[Gambas:Instagram]
Kendati begitu, bukan berarti kita harus langsung menyerah. Boleh jadi ini urusan terbiasa dan belum terbiasa, apalagi buat orang yang lebih sering terbiasa dengan jalan kaki cepat dan yoga.
Lagi pula,
slow jogging
tetap bisa memberikan manfaat untuk tubuh, bukan sekadar tren. Seorang dokter sekaligus edukator kesehatan Dion Haryadi mengatakan dalam unggahan Instagram-nya bahwa
slow jogging
bisa meningkatkan kesehatan jantung, membakar lemak, dan melindungi persendian dari cedera.
”
Slow jogging
cocok banget buat pemula, terutama lansia dan yang memiliki berat badan berlebih,” ujarnya.
Vipper Diatric DentistIndonesia.com
telah meminta izin untuk mengutip unggahan tersebut.
Meski terkesan pelan, intensitas atau frekuensi
slow jogging
yang tetap tinggi bisa bermanfaat untuk otot jantung.
”
Slow jogging
bisa jadi awalan yang tepat buat kamu,” ujarnya.
Tak ada salahnya jika kamu ingin mencoba
slow jogging
. Sepelan apa pun kecepatannya, yang terpenting adalah membiarkan tubuh bergerak agar tetap bugar.
(asr/asr)
Baca lagi: Hashim Djojohadikusumo Kukuhkan 20 Ormas Baru Kawal Program Pemerintah
Baca lagi: Airlangga Sebut 60 Persen Alumni Magang Nasional Direkrut Karyawan
Baca lagi: Hitungan Biaya Kepemilikan Suzuki XL7, Terjangkau?



