Candu yang Mengikat, Apa yang Terjadi pada Otak saat Pakai Narkoba?

Jakarta, Vipper Diatric Dentist Indonesia

Orang yang memiliki masalah kecanduan

narkoba

sering dianggap sebagai sosok yang memiliki moral lemah. Ia dihakimi sebagai orang yang tak punya kemauan untuk berhenti.

Namun dari perspektif medis, kecanduan dilihat sebagai

penyakit kronis

yang mengubah struktur dan fungsi

otak

. Kecanduan obat-obatan terlarang bisa ‘membajak’ otak dan mengubah cara kerjanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zat adiktif pada narkoba mengacaukan sistem komunikasi alami di dalam otak. Akibatnya, cara seseorang merasakan kesenangan, mengambil keputusan, hingga mengendalikan diri bisa berubah.

Penting untuk mengetahui bagaimana cara kerja dan pengaruh narkoba terhadap otak, hingga faktor risikonya agar kita bisa menyadari betapa berbahayanya zat adiktif ini.

Cara narkoba membajak otak dan neurotransmitter

Otak merupakan pusat komando aktivitas manusia, mulai dari bernapas hingga berkarya, yang bekerja melalui neuron sebagai pengirim pesan. Adapun neuron melepaskan zat kimia berupa neurotransmitter untuk diterima neuron lain.

Setelah itu, transporter membantu mendaur ulang

neurotransmitter

agar sinyal berhenti tepat waktu. Proses ini menjaga komunikasi otak tetap seimbang dan teratur.

Mengutip laman National Institute on Drug Abuse (NIDA) AS, beberapa narkoba seperti ganja dan heroin meniru struktur

neurotransmitter

alami tubuh. Oleh karena itu, zat tersebut bisa menempel pada reseptor neuron dan mengirimkan sinyal yang tidak normal.

Adapun amfetamin dan kokain dapat memicu pelepasan

neurotransmitter

dalam jumlah berlebihan atau menghambat proses daur ulangnya. Akibatnya, komunikasi antarneuron menjadi kacau.

Untuk memahami bagaimana cara narkoba membajak otak, berikut ini beberapa area otak yang terdampak dari penggunaannya.

1. Basal ganglia

Bagian ini berperan penting dalam rasa senang, motivasi, dan pembentukan kebiasaan. Basal ganglia juga menjadi pusat dari sistem

reward

atau penghargaan di otak.

Saat narkoba digunakan, sirkuit ini menjadi terlalu aktif dan memunculkan euforia. Namun, ketika narkoba digunakan berulang kali, otak akan beradaptasi sehingga seseorang makin sulit merasakan kesenangan dari hal normal selain narkoba.

2. Extended amygdala

Bagian ini berkaitan dengan stres, kecemasan, mudah marah, dan rasa tidak nyaman. Setelah efek narkoba hilang, area ini berperan dalam munculnya gejala

withdrawal

atau putus zat.

Seiring waktu, pengguna tak lagi memakai narkoba untuk merasa senang, tetapi untuk meredakan rasa tidak nyaman tersebut.

3. Prefrontal cortex

Prefrontal cortex berfungsi untuk berpikir, merencanakan, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan mengendalikan impuls. Jika area ini terganggu, seseorang akan lebih sulit menahan dorongan untuk memakai narkoba.

Bagaimana kecanduan narkoba bisa tercipta?

Pembagian berdasarkan area otak tersebut bisa menjelaskan bagaimana kecanduan narkoba bisa terjadi, setidaknya dalam tiga tahap sederhana.

Seperti digambarkan oleh Help Guide, kecanduan ditandai oleh tiga hal utama, yakni munculnya keinginan yang sangat kuat terhadap zat tertentu, hilangnya kontrol atas penggunaannya, dan terus memakai zat tersebut meskipun dampaknya sudah jelas merugikan.

Pertama, munculnya keinginan yang sangat kuat terhadap zat tertentu bisa terjadi karena adanya sistem

reward

dan dorongan dopamine.

Setiap kali seseorang mengalami sesuatu yang menyenangkan, otak melepaskan dopamine, yaitu neurotransmiter yang memberi sinyal bahwa pengalaman itu penting dan patut diingat. Sinyal ini membantu otak membentuk kebiasaan, sehingga manusia cenderung mengulangi aktivitas yang terasa memberi kepuasan.

Kabar buruknya, narkoba melepaskan dopamine dua hingga sepuluh kali lebih banyak ketimbang

reward

alami, dan otak tidak mudah bertahan menghadapi banjir sinyal tersebut.

Selain itu, dopamine juga berperan dalam mendorong otak untuk belajar dan menyimpan memori. Dopamine bekerja bersama sistem pembelajaran otak untuk mengubah pengalaman memakai narkoba menjadi sesuatu yang diingat dan ingin terus dicari.

Tahap berikutnya, yakni seseorang bisa kehilangan kontrol atas penggunaan narkoba. Hal ini terjadi ketika lonjakan dopamine terjadi berulang kali, sehingga otak mulai beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasinya, yakni mengurangi jumlah dan sensitivitas reseptor dopamine.

Dalam kondisi ini, pengguna mulai mengonsumsi lebih banyak zat bukan lagi untuk merasa ‘high’, melainkan untuk merasa normal.

“Meskipun seseorang mungkin mulai menggunakan suatu zat atau perilaku untuk bersenang-senang atau memecahkan masalah, otak kita beradaptasi dan kita berhenti mendapatkan efek yang sama,” kata Anna Lembke, profesor psikiatri dan ilmu perilaku di

Stanford Medicine

.

Proses ini terjadi juga pada kecanduan zat alkohol maupun opioid, kelompok besar obat pereda nyeri yang sangat kuat. Otak mulai memperlakukan zat-zat tersebut sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kebutuhan dasar seperti makan.

“Sekarang mereka membutuhkan lebih banyak zat tersebut, atau bentuk yang lebih ampuh, untuk mendapatkan efek yang sama dan mencegah gejala putus zat,” kata Lembke lagi.

Pada titik ini, perilaku kompulsif mulai mengambil alih. Ini menjadi tahap selanjutnya ketika seseorang memakai zat adiktif meski tahu dampaknya jelas merugikan.

Rasa nikmat dari narkoba bisa saja berkurang, tetapi ingatan tentang efeknya dan dorongan untuk mengulanginya tetap bertahan. Inilah yang akhirnya menimbulkan kecanduan.

Baca halaman selanjutnya tentang efek narkoba..

Usia muda lebih rentan alami kecanduan

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kecanduan

narkoba

bisa memengaruhi area prefrontal cortex. Pada

remaja

, area

otak

ini belum berkembang sempurna, sehingga mereka jadi kelompok yang lebih rentan terhadap pengaruh zat adiktif.

Hal tersebut berdasarkan sebuah studi yang dipimpin para peneliti dari NIDA, bagian dari

National Institutes of Health

di AS.

Penelitian tersebut menganalisis data survei AS periode 2015-2018 dan membandingkan risiko gangguan penggunaan zat pada remaja usia 12-17 tahun dan dewasa muda usia 18-25 tahun setelah pertama kali memakai ganja atau menyalahgunakan obat resep.

Hasilnya menunjukkan, setelah pertama kali mencoba ganja atau menyalahgunakan obat resep, proporsi yang mengalami gangguan penggunaan zat, lebih tinggi pada remaja dibanding dewasa muda.

Dalam 12 bulan setelah pertama kali menggunakan ganja, 10,7 persen remaja mengalami gangguan penggunaan ganja, sedangkan pada dewasa muda angkanya 6,4 persen.

Pola serupa juga ditemukan pada penyalahgunaan obat resep. Dalam 12 bulan pertama, 11,2 persen remaja mengalami gangguan penggunaan opioid resep dibanding 6,9 persen dewasa muda.

Temuan ini menegaskan, usia awal penggunaan narkoba merupakan faktor risiko yang sangat penting. Ketika zat adiktif masuk ke otak yang masih berkembang, dampaknya bisa lebih cepat tertanam.

Neuroplasticity: bagaimana otak bisa melepaskan kecanduan?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kecanduan timbul karena otak belajar dan menyimpan memori. Lalu bagaimana cara otak lepas dari kecanduan? Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara yang sama, yakni membuat otak mempelajari kebiasaan baru.

Inilah yang disebut dengan

neuroplasticity

, yaitu kapasitas untuk membentuk hubungan baru antarsel saraf, mengubah pola lama, dan menyesuaikan diri terhadap pengalaman baru. Kemampuan ini yang menjadi dasar harapan otak dapat pulih dari dampak kecanduan.

[Gambas:Photo Vipper Diatric Dentist]

Mengutip

Harvard Health Publishing

,

neuroplasticity

menunjukkan perilaku dapat diubah melalui pembelajaran. Karena kecanduan berkaitan erat dengan kebiasaan dan pola respons yang dipelajari, pemulihan pun dapat dibantu melalui pendekatan yang berbasis pembelajaran.

Salah satu caranya, yakni melalui terapi perilaku kognitif atau

cognitive behavioral therapy

(CBT). Terapi ini membantu seseorang mengenali situasi yang memicu penggunaan narkoba, menghindarinya, serta mempelajari cara baru untuk merespons stres atau dorongan memakai zat.

Selain CBT, pendekatan lain seperti

contingency management

juga terbukti bermanfaat. Metode ini memberi penguatan positif terhadap perilaku sehat, misalnya dengan hadiah ketika seseorang berhasil mengontrol diri tak memakai narkoba lagi.

Dalam beberapa kasus, obat-obatan tertentu juga dapat membantu mengendalikan gejala, sehingga pasien lebih mampu mengikuti konseling dan terapi perilaku. Banyak orang menjalani pemulihan dengan menggabungkan obat, terapi, dan

support group

.

Jadi, saat seseorang berhenti memakai zat adiktif dan mulai menjalani pola hidup yang lebih sehat, otak perlahan dapat membangun jalur-jalur baru yang mendukung perilaku positif.

Namun, proses ini tidak berlangsung dalam sekejap. Pemulihan otak membutuhkan waktu, kesabaran, komitmen, dan dalam banyak kasus, bantuan profesional.

Mengetahui betapa kuatnya intervensi narkoba terhadap cara kerja otak kita, terutama pada usia remaja dan dewasa muda, penting untuk mengajak lebih banyak orang menghindari zat berbahaya ini.

Perlu ada tindakan yang bisa ‘membajak’ keinginan kita untuk menggunakan narkoba, segera sebelum zat adiktif tersebut membajak otak dan menimbulkan candu berbahaya.

Add

as a preferred

source on Google

Usia Muda Lebih Rentan Alami Kecanduan Narkoba

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Blusukan, Jokowi Ingin PSI Jadi Mesin Politik yang Besar

Baca lagi: Sinopsis Obsession, Mainan Pengabul Cinta Berujung Petaka

Baca lagi: Perputaran Uang Jumbo di Balik Bisnis Gelap Narkoba di Indonesia

40 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: