
Jakarta, Vipper Diatric Dentist Indonesia
—
Kabut asap
datang, lalu
batuk
muncul. Tenggorokan juga terasa gatal, dada tidak nyaman, dan napas terasa lebih pendek. Apakah itu sekadar efek menghirup asap atau tanda
pneumonia
?
Jawabannya, batuk tak selalu menjadi tanda pneumonia. Kenali beda batuk akibat paparan asap dan pneumonia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus pneumonia sendiri dilaporkan meningkat sepanjang Agustus 2026, seiring dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan.
Teranyar, RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak melaporkan peningkatan kasus pneumonia sebesar 20 persen seiring memburuknya kualitas udara.
Kasus pneumonia memang rentan meningkat di tengah buruknya kualitas udara akibat karhutla. Namun, tak semua batuk dan sesak saat kabut asap berarti tanda pneumonia.
Asap kebakaran memang dapat menyebabkan iritasi dan inflamasi saluran pernapasan secara langsung.
Center for Disease and Prevention Control
(CDC) Amerika Serikat menyebut, asap kebakaran hutan merupakan campuran gas dan partikel halus dari pohon dan tumbuhan yang terbakar, bangunan, dan material lainnya.
Cara membedakan batuk karena asap atau pneumonia
Asap kebakaran bisa memicu batuk, mengi, mata perih, tenggorokan gatal, hingga sulit bernapas dan nyeri dada. Kesemuanya juga bisa muncul dalam kasus pneumonia.
Namun, batuk hingga nyeri dada saja bukan selalu berarti pneumonia. Nama terakhir sendiri merupakan infeksi pada paru-paru, yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau organisme lain.
Kementerian Kesehatan
(Kemenkes) RI mencatat, infeksi bakteri jadi penyebab umum pneumonia. Gejala pneumonia sendiri bisa meliputi berikut batuk, sesak napas, nyeri dada saat bernapas atau batu, demam, hingga mual, muntah atau diare.
Artinya, untuk membedakan batuk karena paparan asap atau pneumonia, Anda perlu memperhatikan gejala lain yang menyertai. Jika batuk disertai dengan demam tinggi, rasa lelah yang tak bisa dijelaskan, hingga mual dan muntah, maka Anda patut curiga.
Berikut tabel mengenai beda gejala efek paparan asap dan pneumonia.
Kendati demikian, tabel di atas tidak bisa dijadikan alat diagnosis. Gejala pneumonia sendiri dapat bervariasi bergantung pada usia, penyebab infeksi, dan kondisi tubuh setiap orang.
Kapan harus ke dokter?
Menukil
Mayo Clinic
, pneumonia sendiri lebih rentan pada beberapa kelompok. Di antaranya kelompok lanjut usia (lansia) dan anak di bawah lima tahun (balita). Orang dengan masalah jantung, paru, hati, dan gula darah juga memiliki risiko yang lebih tinggi terkena pneumonia.
Lakukan konsultasi dengan dokter jika batuk disertai dengan sulit bernapas, nyeri dada, dan demam di atas 39 derajat Celcius yang menerus. Lakukan juga pemeriksaan jika batuk mengeluarkan lendir yang kuat.
(asr)
Baca lagi: NYALANG: Menua dalam Kenangan
Baca lagi: Tarif TransBandara Blok M-Soekarno Hatta Jadi Rp15.000 Mulai Besok
Baca lagi: FOTO: Sandra Bullock dan Nicole Kidman Kembali dalam Practical Magic 2



